Langsung ke konten utama

Serpihan kaca

Senja dibatas pantai aku sendirian kembali mengingat masih adakah jejek ku yang tertinggal disana. Ku coba duduk di atas beton pemecah ombak,  dan benar semua disini masih sama.  Mereka masih sama,  beton pemecah ombak,  angin laut,  dan deburan ombak yang beruntutan.
 Mereka kembali mengingatkan aku ketika kita bertemu untuk menikmati sunset sebelum kau pergi. Itu mungkin pertemuan terakhir kita sampai saat ini.
Aku masih ingat betul saat kau bersandar dipundakku menghadab barat menikmati sunset bersama.  Akh diam,  ya sejak awal kita duduk disitu aku hanya diam mendengarkan semua curhatan, kekesalan dan harapanmu terhadapku.  Aku tau,  saat itu kau menangis.  Entah bagian mana yang kau tangisi.
 Aku tak tahu dihadapanmu seolah aku jadi bisu,  mulutku kaku ketika kau ungkapkan semua curhatanmu kepadaku. Ke elus kepalamu yang bersandar dipundakku,  kucoba tenangkan dirimu. Aku perlahan menegakkan kepalamu, sedikit aku bergeser dari dudukmu agak menjauh.
Tiupan angin laut bercampur deburan ombak sedikit mendinginkan fikiranku.  Kuhirup nafas panjang dan mulai membalas semua curhatan mu,  aku tak sanggup melihat dan mengusap tetesan air mata yang membasahi pipimu.  Aku hanya bercerita menghadap sunset yang hampir tenggelam. "maaf, aku hanya lelaki bodoh yang tak pantas mendampingimu hingga senja nanti. Aku tau sebentar lagi kau pergi meninggalkan kota untuk mulai meniti karir. Kau tak perlu takut aku sendiri sini. Justru akulah yang khawatir karena kepergianmu. Dan pasti kau disana juga cukup lama. Menangislah dan jangan kau tinggalkan bebanmu disini. Ketika kau pergi nanti bawalah 1, semangat. Menagislah jika itu mampu menghapus semua beban rasa sedihmu."
Nampaknya kau ingin menguras semua air matamu hingga kau tak bisa menangis karenaku. Sambil mengusap air mata yang menetes dipipimu, kau mengucapkan beberapa kata yang membuatku tertegun. "terimakasih,  telah membuatku bahagia selama aku bersamamu. Dan terimakasih pula atas kesetiaanmu menemaniku sejauh ini.  Namun maaf, kuharap beberapa tahun lagi kita bertemu kembali sebagai orang sukses dengan cara kita masing-masing.  Selamat tingggal"
Beberapa kata terakhir darimu tak mampu membuat aku bergerak dari duduk ku. Aku tak mampu mengejar yang beranjak meninggalkan aku sendirian. Ya, aku hanya menoleh melihat kau berjalan pulang sendirian. Ada kata yang belum sempat aku sampaikan kepadamu. Marah,  kesal,  kecewa bercampur saat sosokmu mulai lenyap dari hadapanku.  Arrrgghh, ku hajar beton pemecah ombak ini.  Rasa sakitnya belum mampu menutupi rasa saat kau pergi meninggalkanku.
Sebuah kebutuan yang harusnya bisa aku selesaikan saat kau pergi dari hadapanku.
Ada kekecewaan dalam diriku sendiri,  mengapa tak kuselesaikan waktun itu saja. Sehingga hasilnya tak akan begini. Dengan perasaan kecewa dan tangan yang bengkak,  aku pulang dengan fikiran yang cukup kacau.
Sekian lama tak pernah kembali ke pantai ini setelah 10 tahun aku sibuk dengan urusanku sendiri. Kuharap kau segera datang dihadapanku, namun hanya bayangmu lah yang selalu hadir mengisi kekosongan saat aku sedang melamun. Bertahun - tahun lamanya aku seperti serpihan kaca sejak saat kau pergi hingga sekarang.

Komentar